
Hingga saat ini beberapa klub Liga Super masih terbelit utang. Namun, menjelang bergulirnya musim 2009/2010 Oktober mendatang, mereka belum bisa memastikan tata waktu pelunasan tunggakan tersebut.
Seperti diketahui, klub Liga Super sudah mendapatkan hasil verifikasi dengan proyeksi pembiayaan yang dinilai Liga cukup menjanjikan. Beberapa klub juga mengaku sudah melunasi tunggakan sanksi Komisi Disiplin (Komdis) seperti Persik Kediri yang memiliki beban Rp140 juta.
Namun, Persitara Jakarta Utara masih memiliki utang Rp1,5 miliar. CEO PT Batavia Persitara Harry Ruswanto mengatakan, klub masih menyisakan tunggakan kepada pengurus.
“Kalau utang kepada pemain sudah tidak ada, apalagi pihak lain di luar Persitara. Kami memang memiliki utang kepada pengurus sebesar itu. Dana tersebut kami gunakan untuk membiayai operasional klub musim lalu,” ungkapnya kemarin.
Laskar Si Pitung –julukan Persitara– musim lalu menghabiskan anggaran sekitar Rp16 miliar yang bersumber kepada APBD. Kompetisi musim depan, mereka diproyeksikan mendapatkan APBD Rp12 miliar.
Harry menambahkan, klub belum memberikan jaminan tata waktu pelunasan tunggakan utang tersebut. “Kami belum tahu kapan utang itu akan dibayar. Pengurus tidak terlalu berharap uang tersebut kembali. Boro-boro memikirkan utang itu, kami sedang dipusingkan pendanaan musim depan,” lanjutnya. Persitara mengakui APBD menjadi sumber pendanaan utama klub karena sampai 85%.
Beberapa sponsor diperkirakan cair Rp300 juta. Hanya, masalahnya, dana sponsor tersebut baru bisa diuangkan pada Januari 2010. Bukan hanya Persitara, sengketa utang juga masih melilit Persija. Macan Kemayoran memiliki utang kepada pemain sampai Rp3,9 miliar dan tanggungan gaji tiga bulan.
Beban sama juga dimiliki Persib Bandung. Klub berjuluk Maung Bandung tersebut belum melunasi utang pemain sekitar Rp600 juta plus denda Komdis Rp40 juta. CEO PT Persib Bandung Bermartabat Umuh Muchtar mengatakan, beban utang itu menjadi tanggungan pengurus lama.
“Kami masih memiliki utang dari tahun lalu. Masalah tunggakan gaji pemain harus selesai dalam waktu dekat. Kami tidak habis pikir mengapa gaji pemain belum dibayar semuanya, padahal APBD tahun lalu cair hampir Rp34 miliar,” ujarnya. Maung Bandung juga belum menetapkan tata waktu pelunasan utang tersebut.
“Beruntung pemain bisa paham, apalagi sebagian besar memilih bertahan. Mereka mengerti usaha yang sudah kami lakukan. Kami belum tahu kapan beban itu akan ditutup. Belum ada kejelasan,” tandasnya. [wahyu argia/sindo]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar